Saat
ini suatu perusahaan banyak sekali yang memakai jasa sales promotion girls atau
istilahnya spg untuk memasarkan suatu produk atau brand tertentu, dan saya
memang masih tergolong baru dalam menyelami dunia sales, tapi banyak
sekali yang saya pelajari dan di tulisan kali ini saya pengen berbagi beberapa
fakta tentang SPG mobil dan rokok yang saya temukan di lapangan, yang mungkin
kalian gak sangka-sangka. Berikut fakta- fakta sebenarnya mengenai spg yang
sering kita jumpai :
a- Fee SPG produk rokok dan
mobil bisa mencapai 3x lipat gaji lulusan S1”
Hitungannya
seperti ini, di dalam sistem SPG dikenal istilah “grade”. Ada grade C, B,
sampai yang tertinggi adalah A. Penilaian apakah si SPG oleh spg agency event berhak mendapat nilai
A, B, atau C sangat bergantung pada penampilan fisik dan selera perekrut. Kalo
bosnya orang chinese, biasanya dia cenderung memilih cewek berwajah
oriental sebagai SPG grade A. Begitupun kalo bosnya Indonesia, biasanya lebih
suka cewek yang memiliki kecantikan khas Indonesia. Jadi penilaian grade SPG
juga dipengaruhi oleh latar belakang budaya si perekrut.
Setiap
grade memiliki fee yang berbeda-beda oleh spg agency event . Misalkan di industri rokok, SPG grade B
digaji Rp 350.000 per-shift (6 s.d 9 jam). Apalagi SPG grade A, bisa digaji Rp
500.000 per-shift! Sekarang coba aja misalnya Rp 500.000 dikali 20 hari kerja
dalam sebulan, maka total penghasilan SPG grade A adalah Rp 10.000.000,-. Ini
masih fee dari hari kerja, belum lagi ibaratkan kalo doi juga ambil kerja di
Sabtu dan Minggu (biasanya di event-event) maka penghasilannya Rp 15.000.000,-
Kira-kira
segitu yang bisa saya bagi tentang lika liku SPG yang mungkin banyak orang ngga
tahu. SPG memang profesi yang sangat melelahkan, berdiri 8 jam pakai heels
padahal upacara sekolah yang cuma 1,5 jam aja masih suka nyolong duduk. Tapi
kalau mau dilakoni lebih serius, secara finansial SPG di industri rokok dan
otomotif lebih menjanjikan. Semoga tulisan ini bisa memberikan bayangan
mengenai dunia per-SPGan hehe.
- - Di awal perekrutan,
biasanya agency SPG menyeleksi dengan cara “berbohong”
Apa
sih maksudnya “berbohong”? Ya, nyaris setiap pekerjaan sales tentunya memiliki
target penjualan yang harus dicapai. Namun di hari pertama, biasanya oleh spg agency jakarta si SPG
ngga dikasihtau kalo ada target semacam itu. Hal ini biasanya terjadi pada SPG
rokok, kenapa?
Pertama,
agency pengen ngelihat gimana kelakuan si SPG yang sebenarnya. Apakah
mentang-mentang gak ada target, lalu si SPG jadi pasif dan males-malesan
kerjanya? Atau dia tetep berusaha menjual sebanyak-banyaknya?
Dikhawatirkan,
kalo si SPG tau berapa target yang ditetapkan perusahaan, mereka akan melakukan
cara curang yaitu “membuang rokok”. Simpelnya, seakan-akan rokok yang dia jual
ludes semua padahal mah dia sendiri yang beli, atau bisa jadi dia jual dengan
harga lebih murah ke distributor. Hal tersebut sangat mungkin terjadi. Makanya
supaya SPG di hari pertamanya ngga terdorong untuk curang, target penjualan
biasanya ngga dikasihtau. Taunya pas udah closing, yang gak memenuhi
target oleh spg agency jakarta diberi pengarahan.
- - Semakin tertutup
pakaian SPG, brand yang diwakilinya semakin mahal. Sedangkan SPG
berpakaian terbuka justru cenderung mewakili brand menengah
kebawah.”
Misal
kita liat contohnya di pameran mobil. Mobil-mobil kelas menengah keatas
biasanya menampilkan SPG dengan pakaian yang sopan dan elegan menurut kultur
Indonesia. Kenapa? Karena segmen pembeli mobil mahal adalah pria berusia 40
tahun yang biasanya sudah sangat mapan dan memiliki istri. Tentunya, ketika
nyari mobil ke showroom dia akan bawa istrinya. Bayangkan apa yang
terjadi kalo SPG/Usher yang mejeng di mobil mewah tersebut berpakaian terlalu
seksi, pasti bininya langsung minta si suami beli mobil ke tempat lain karena
takut suaminya kepincut SPG “Hm kayaknya aku ngga sreg deh sama mobil ini, kita
liat-liat ke tempat lain aja yuk pah!” (padahal si istri insecure sama
SPG seksi).
Selain
itu, brand menengah keatas tentu tidak mau produknya “diwakili” oleh
perempuan berpakaian terlalu seksi karena suka gak suka, di Indonesia cewek
berpakaian terbuka masih dianggap negatif. Brand kelas ekslusif nggak
akan mau merknya diwakili oleh SPG berkonotasi negatif karena akan menjatuhkan
merknya sendiri.
Justru,
oleh spg agency jakarta SPG yang berpakaian lebih terbuka biasanya ditempatkan pada brand dengan
segmen menengah kebawah. Kenapa? Karena segmen sasaran brand tersebut
adalah pria lajang yang belum menikah dan belum mapan. Maka ditempatkanlah
SPG/Usher berpakaian seksi untuk menarik perhatian pria lajang agar mau datang
dan bertanya tentang produk yang ditawarkan. Kalo pria lajang mau ngobrol sama
SPG kan bebas, beda halnya kalo udah punya bini.
Contoh
lainnya juga dapat ditemukan pada brand rokok. Rokok yang belum banyak
dikenal masyarakat dan berharga murah biasanya menggunakan SPG berpakaian seksi
supaya lebih mudah menarik perhatian calon konsumen. Beda halnya dengan brand
rokok terkenal apalagi yang mahal, konsumennya sudah banyak sehingga gak perlu
rekrut SPG dengan pakaian terlalu seksi.
Tapi
poin yang udah dijelasin tadi kadang ngga berlaku apabila produk yang diwakili
SPGnya adalah brand mobil sport mahal (Lamborghini, Ferrari, etc)
kadang walaupun mahal mereka tetep hire SPG dengan pakaian seksi, karena
pembelinya adalah pria 40an yang tajir tapi jiwanya masih anak muda, puber
ala-ala.
- SPG produk rokok
DILARANG merokok!”
Ya,
peraturan ini benar-benar ada. Mungkin karena dalam berpromosi, produk rokok
tidak boleh terang-terangan mencontohkan perilaku merokok. Liat aja di
iklan-iklan TV, ga ada kan yang iklannya terang-terangan si artis ngerokok. Hal
yang sama berlaku juga pada SPG rokok, oleh spg agency jakarta mereka dilarang merokok saat sedang
memakai seragam SPG. Selain karena mencontohkan hal yang ga baik (dari sisi
kesehatan), sosok perempuan yang merokok kadang masih jadi hal tabu di
Indonesia. Takutnya ketika si SPG santai ngerokok di depan orang-orang, malah
ngejatohin citra dari brand rokoknya.
-- Fungsi SPG rokok
adalah membujuk perokok untuk beralih merek, bukan membujuk orang yang gak
merokok untuk mencoba rokok.”
Biasanya
dalam profesi SPG terdapat SOP yang harus dipatuhi, salah satunya adalah cara
berkomunikasi dengan konsumen. Biasanya, SPG diminta untuk menanyakan “Bapak
ngerokok ngga?” sebelum menawarkan produk. Kalo ternyata bapak tersebut ngga
ngerokok, maka kita ga boleh nawarin rokok. Cukup ucapkan “Terima kasih” dan
mencari calon konsumen lainnya yang memang dari awal sudah merokok.
-- Keputusan seseorang
untuk membeli rokok BERGANTUNG pada jenis pekerjaannya.”
Biasanya,
orang yang mempunyai pekerjaan di level manajerial justru lebih sulit
ditawarkan produk rokok daripada orang yang melakoni pekerjaan level menengah
kebawah.
Kenapa?
Orang
yang menduduki level manajerial cenderung memiliki pekerjaan yang lebih
kompleks. Lebih sibuk. Bahkan mungkin baru sempet ngerokok setelah kerjaannya
kelar semua. Berbeda dengan orang yang memiliki pekerjaan level menengah
kebawah seperti satpam, cleaning service, supir, dan lainnya.
Orang-orang tersebut mengerjakan hal yang teknis dan berulang-ulang sehingga
rentan timbul kebosanan. Kerjaannya pun gak sesibuk mereka yang ada di level
manajerial. Disaat lagi bosan dan ga ada kerjaan, biasanya mereka menghabiskan
waktu ngobrol-ngobrol dengan sesamanya sambil ngopi dan ngerokok. Makanya
orang-orang jenis ini justru lebih sering merokok sehingga lebih mudah dibujuk
untuk membeli.
-- Orang yang datang
bersama teman LEBIH MUDAH dibujuk untuk membeli, daripada yang sendirian.”
Coba
bayangkan, apa sih yang biasanya kalian lakukan ketika dari jauh kalian melihat
ada SPG nyamperin? Saya yakin 90% pasti memilih menghindar. Kita cenderung
menghindar dari 2 hal: orang asing dan hal-hal yang membahayakan isi dompet.
Tapi gimana kalo kita udah telanjur diajak ngomong sama SPG?
Kalo
sendirian, biasanya kita mengambil langkah defensif dengan bilang “Nggak,
makasih” atau menggelengkan kepala. Beda halnya kalo sama temen, kadang demi
menyelamatkan diri bisa ngorbanin temen sendiri. Misal ada 5 orang cowok lagi
nongkrong dan si SPG nyamperin untuk nawarin rokok, lalu reaksi si A adalah
“Waduh, saya ngga ngerokok mbak. Si B ajanih! Dia ngerokok.” (Pdhl si A ini
sebenernya perokok). Lalu si B pun kebagian apesnya, apalagi setelah
diceng-cengin dan jadi dibujuk beli juga sama temen setongkrongannya. Seluruh
teman si B bersikap defensif dengan mengorbankan doi, bahkan jadi ngebantuin
SPG dengan ngebujuk si B biar mau beli. Logikanya, pasti kita lebih mau beli
barang ketika yang nawarin adalah orang yang kita kenal daripada orang asing.
Setelah dibujuk (dan agak dipaksa) temen setongkrongannya jadilah si B yang
tadinya gak mau beli akhirnya jadi beli.