Rabu, 27 Juli 2016

Beberapa Fakta Mengenai SPG Rokok



Saat ini suatu perusahaan banyak sekali yang memakai jasa sales promotion girls atau istilahnya spg untuk memasarkan suatu produk atau brand tertentu, dan saya memang masih tergolong baru dalam menyelami dunia sales, tapi banyak sekali yang saya pelajari dan di tulisan kali ini saya pengen berbagi beberapa fakta tentang SPG mobil dan rokok yang saya temukan di lapangan, yang mungkin kalian gak sangka-sangka. Berikut fakta- fakta sebenarnya mengenai spg yang sering kita jumpai :

a-  Fee SPG produk rokok dan mobil bisa mencapai 3x lipat gaji lulusan S1”
Hitungannya seperti ini, di dalam sistem SPG dikenal istilah “grade”. Ada grade C, B, sampai yang tertinggi adalah A. Penilaian apakah si SPG oleh spg agency event berhak mendapat nilai A, B, atau C sangat bergantung pada penampilan fisik dan selera perekrut. Kalo bosnya orang chinese, biasanya dia cenderung memilih cewek berwajah oriental sebagai SPG grade A. Begitupun kalo bosnya Indonesia, biasanya lebih suka cewek yang memiliki kecantikan khas Indonesia. Jadi penilaian grade SPG juga dipengaruhi oleh latar belakang budaya si perekrut.

Setiap grade memiliki fee yang berbeda-beda oleh spg agency event . Misalkan di industri rokok, SPG grade B digaji Rp 350.000 per-shift (6 s.d 9 jam). Apalagi SPG grade A, bisa digaji Rp 500.000 per-shift! Sekarang coba aja misalnya Rp 500.000 dikali 20 hari kerja dalam sebulan, maka total penghasilan SPG grade A adalah Rp 10.000.000,-. Ini masih fee dari hari kerja, belum lagi ibaratkan kalo doi juga ambil kerja di Sabtu dan Minggu (biasanya di event-event) maka penghasilannya Rp 15.000.000,-

Kira-kira segitu yang bisa saya bagi tentang lika liku SPG yang mungkin banyak orang ngga tahu. SPG memang profesi yang sangat melelahkan, berdiri 8 jam pakai heels padahal upacara sekolah yang cuma 1,5 jam aja masih suka nyolong duduk. Tapi kalau mau dilakoni lebih serius, secara finansial SPG di industri rokok dan otomotif lebih menjanjikan. Semoga tulisan ini bisa memberikan bayangan mengenai dunia per-SPGan hehe.

- - Di awal perekrutan, biasanya agency SPG menyeleksi dengan cara “berbohong”
Apa sih maksudnya “berbohong”? Ya, nyaris setiap pekerjaan sales tentunya memiliki target penjualan yang harus dicapai. Namun di hari pertama, biasanya oleh spg agency jakarta si SPG ngga dikasihtau kalo ada target semacam itu. Hal ini biasanya terjadi pada SPG rokok, kenapa?

Pertama, agency pengen ngelihat gimana kelakuan si SPG yang sebenarnya. Apakah mentang-mentang gak ada target, lalu si SPG jadi pasif dan males-malesan kerjanya? Atau dia tetep berusaha menjual sebanyak-banyaknya?

Dikhawatirkan, kalo si SPG tau berapa target yang ditetapkan perusahaan, mereka akan melakukan cara curang yaitu “membuang rokok”. Simpelnya, seakan-akan rokok yang dia jual ludes semua padahal mah dia sendiri yang beli, atau bisa jadi dia jual dengan harga lebih murah ke distributor. Hal tersebut sangat mungkin terjadi. Makanya supaya SPG di hari pertamanya ngga terdorong untuk curang, target penjualan biasanya ngga dikasihtau. Taunya pas udah closing, yang gak memenuhi target oleh spg agency jakarta diberi pengarahan.

- -  Semakin tertutup pakaian SPG, brand yang diwakilinya semakin mahal. Sedangkan SPG berpakaian terbuka  justru cenderung mewakili brand menengah kebawah.”
Misal kita liat contohnya di pameran mobil. Mobil-mobil kelas menengah keatas biasanya menampilkan SPG dengan pakaian yang sopan dan elegan menurut kultur Indonesia. Kenapa? Karena segmen pembeli mobil mahal adalah pria berusia 40 tahun yang biasanya sudah sangat mapan dan memiliki istri. Tentunya, ketika nyari mobil ke showroom dia akan bawa istrinya. Bayangkan apa yang terjadi kalo SPG/Usher yang mejeng di mobil mewah tersebut berpakaian terlalu seksi, pasti bininya langsung minta si suami beli mobil ke tempat lain karena takut suaminya kepincut SPG “Hm kayaknya aku ngga sreg deh sama mobil ini, kita liat-liat ke tempat lain aja yuk pah!” (padahal si istri insecure sama SPG seksi).

Selain itu, brand menengah keatas tentu tidak mau produknya “diwakili” oleh perempuan berpakaian terlalu seksi karena suka gak suka, di Indonesia cewek berpakaian terbuka masih dianggap negatif. Brand kelas ekslusif nggak akan mau merknya diwakili oleh SPG berkonotasi negatif karena akan menjatuhkan merknya sendiri.

Justru, oleh spg agency jakarta SPG yang berpakaian lebih terbuka biasanya ditempatkan pada brand dengan segmen menengah kebawah. Kenapa? Karena segmen sasaran brand tersebut adalah pria lajang yang belum menikah dan belum mapan. Maka ditempatkanlah SPG/Usher berpakaian seksi untuk menarik perhatian pria lajang agar mau datang dan bertanya tentang produk yang ditawarkan. Kalo pria lajang mau ngobrol sama SPG kan bebas, beda halnya kalo udah punya bini.

Contoh lainnya juga dapat ditemukan pada brand rokok. Rokok yang belum banyak dikenal masyarakat dan berharga murah biasanya menggunakan SPG berpakaian seksi supaya lebih mudah menarik perhatian calon konsumen. Beda halnya dengan brand rokok terkenal apalagi yang mahal, konsumennya sudah banyak sehingga gak perlu rekrut SPG dengan pakaian terlalu seksi.

Tapi poin yang udah dijelasin tadi kadang ngga berlaku apabila produk yang diwakili SPGnya adalah brand mobil sport mahal (Lamborghini, Ferrari, etc) kadang walaupun mahal mereka tetep hire SPG dengan pakaian seksi, karena pembelinya adalah pria 40an yang tajir tapi jiwanya masih anak muda, puber ala-ala.

  SPG produk rokok DILARANG merokok!”
Ya, peraturan ini benar-benar ada. Mungkin karena dalam berpromosi, produk rokok tidak boleh terang-terangan mencontohkan perilaku merokok. Liat aja di iklan-iklan TV, ga ada kan yang iklannya terang-terangan si artis ngerokok. Hal yang sama berlaku juga pada SPG rokok, oleh spg agency jakarta mereka dilarang merokok saat sedang memakai seragam SPG. Selain karena mencontohkan hal yang ga baik (dari sisi kesehatan), sosok perempuan yang merokok kadang masih jadi hal tabu di Indonesia. Takutnya ketika si SPG santai ngerokok di depan orang-orang, malah ngejatohin citra dari brand rokoknya.


-- Fungsi SPG rokok adalah membujuk perokok untuk beralih merek, bukan membujuk orang yang gak merokok untuk mencoba rokok.”
Biasanya dalam profesi SPG terdapat SOP yang harus dipatuhi, salah satunya adalah cara berkomunikasi dengan konsumen. Biasanya, SPG diminta untuk menanyakan “Bapak ngerokok ngga?” sebelum menawarkan produk. Kalo ternyata bapak tersebut ngga ngerokok, maka kita ga boleh nawarin rokok. Cukup ucapkan “Terima kasih” dan mencari calon konsumen lainnya yang memang dari awal sudah merokok.

-- Keputusan seseorang untuk membeli rokok BERGANTUNG pada jenis pekerjaannya.”
Biasanya, orang yang mempunyai pekerjaan di level manajerial justru lebih sulit ditawarkan produk rokok daripada orang yang melakoni pekerjaan level menengah kebawah.

Kenapa?
Orang yang menduduki level manajerial cenderung memiliki pekerjaan yang lebih kompleks. Lebih sibuk. Bahkan mungkin baru sempet ngerokok setelah kerjaannya kelar semua. Berbeda dengan orang yang memiliki pekerjaan level menengah kebawah seperti satpam, cleaning service, supir, dan lainnya. Orang-orang tersebut mengerjakan hal yang teknis dan berulang-ulang sehingga rentan timbul kebosanan. Kerjaannya pun gak sesibuk mereka yang ada di level manajerial. Disaat lagi bosan dan ga ada kerjaan, biasanya mereka menghabiskan waktu ngobrol-ngobrol dengan sesamanya sambil ngopi dan ngerokok. Makanya orang-orang jenis ini justru lebih sering merokok sehingga lebih mudah dibujuk untuk membeli.
 

--  Orang yang datang bersama teman LEBIH MUDAH dibujuk untuk membeli, daripada yang sendirian.”
Coba bayangkan, apa sih yang biasanya kalian lakukan ketika dari jauh kalian melihat ada SPG nyamperin? Saya yakin 90% pasti memilih menghindar. Kita cenderung menghindar dari 2 hal: orang asing dan hal-hal yang membahayakan isi dompet. Tapi gimana kalo kita udah telanjur diajak ngomong sama SPG?

Kalo sendirian, biasanya kita mengambil langkah defensif dengan bilang “Nggak, makasih” atau menggelengkan kepala. Beda halnya kalo sama temen, kadang demi menyelamatkan diri bisa ngorbanin temen sendiri. Misal ada 5 orang cowok lagi nongkrong dan si SPG nyamperin untuk nawarin rokok, lalu reaksi si A adalah “Waduh, saya ngga ngerokok mbak. Si B ajanih! Dia ngerokok.” (Pdhl si A ini sebenernya perokok). Lalu si B pun kebagian apesnya, apalagi setelah diceng-cengin dan jadi dibujuk beli juga sama temen setongkrongannya. Seluruh teman si B bersikap defensif dengan mengorbankan doi, bahkan jadi ngebantuin SPG dengan ngebujuk si B biar mau beli. Logikanya, pasti kita lebih mau beli barang ketika yang nawarin adalah orang yang kita kenal daripada orang asing. Setelah dibujuk (dan agak dipaksa) temen setongkrongannya jadilah si B yang tadinya gak mau beli akhirnya jadi beli.